INOVASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM MENGATASI KETIMPANGAN GENDER PADA PROGRAM KELUARGA BERENCENA DI MASYARAKAT LUJANG DESA PONG LENGOR
Kata Kunci:
Edukasi, Pemberdayaan, Ketimpangan Gender, Program Keluarga BerencanaAbstrak
Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu program yang digagas pemerintah guna mewujudkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan serta perencanaan kehamilan. Program ini berfungsi sebagai sarana bagi setiap keluarga dalam merancang terbentuknya keluarga yang ideal, yakni keluarga dengan jumlah anggota yang tidak terlalu banyak, harmonis, dan hidup sejahtera. Namun hingga kini, pelaksanaan program KB di Indonesia dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan dimensi kesetaraan gender, karena pelayanan KB masih lebih banyak berfokus pada perempuan. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan memberdayakan warga Kampung Lujang dengan menyampaikan bahwa penggunaan kontrasepsi bukan semata-mata tanggung jawab perempuan, melainkan laki-laki pun berhak dan perlu terlibat. Di samping itu, perempuan juga berhak memiliki suara dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut urusan rumah tangga. Metode Penelitian: Pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan ini berupa edukasi berbasis presentasi PowerPoint yang membahas tema pemberdayaan perempuan dalam konteks ketimpangan gender di Desa Pong Lengor. Selain itu, kuesioner juga digunakan sebagai instrumen untuk mengukur pemahaman pasangan suami istri mengenai program KB di Kampung Lujang. Hasil: Berdasarkan hasil pre-test, dari 10 pasangan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini, hanya 2 pasangan yang telah memiliki pemahaman yang memadai tentang manfaat penggunaan alat kontrasepsi serta pentingnya pengambilan keputusan secara bersama di dalam keluarga. Sementara itu, 8 pasangan lainnya masih memiliki keterbatasan pengetahuan terkait program KB. Setelah dilaksanakannya sesi edukasi dan diskusi bersama, hasil post-test memperlihatkan peningkatan yang signifikan: 7 pasangan telah memiliki pengetahuan yang baik, sementara 3 pasangan lainnya berada pada kategori pengetahuan yang cukup.Kesimpulan: Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan di Desa Pong Lengor mengenai pemberdayaan perempuan dalam menyikapi ketimpangan gender pada program keluarga berencana, dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat pemahaman pasangan suami istri terhadap manfaat alat kontrasepsi masih tergolong rendah. Kondisi ini tercermin dari fakta bahwa hanya dua dari sepuluh pasangan yang benar-benar memahami kegunaan kontrasepsi, sedangkan mayoritas lainnya masih kekurangan informasi. Namun pasca kegiatan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan yang berarti di antara para peserta.
Family planning (KB) is a government initiative designed to promote family welfare by regulating and managing pregnancies. The program serves as a framework for families to build an ideal household structure one that is small in number, harmonious, and prosperous. Nevertheless, the implementation of family planning in Indonesia has yet to fully incorporate gender equality principles, as KB services continue to be primarily directed toward women. Objective: This activity aimed to empower the residents of Kampung Lujang by emphasizing that contraceptive use is not exclusively a woman's responsibility men are equally entitled and encouraged to participate. Furthermore, women deserve an equal voice in household decision-making processes. Research Method: The approach used was educational sessions delivered via PowerPoint presentations on women's empowerment and gender inequality in Pong Lengor Village. Questionnaires were also administered to assess the knowledge of married couples regarding the family planning program in Kampung Lujang. Results: Pre-test findings revealed that of the 10 participating couples,only 2 demonstrated adequate knowledge about contraceptive benefits and the importance of shared decision-making within the family, while the remaining 8 couples showed limited understanding of the family planning program. Following the education and group discussions, post-test results indicated a marked improvement: 7 couples achieved a good level of knowledge, while 3 couples reached a sufficient level. Conclusion: Based on activities conducted in Pong Lengor Village on women's empowerment and gender equality in family planning, it can be concluded that married couples' understanding of contraceptive benefits remains low. Only two out of ten couples demonstrated awareness of these benefits, while most others lacked sufficient understanding. However, following the education sessions, a notable increase in knowledge was observed among the participants.




