PERILAKU PEMELIHARAAN KESEHATAN IBU NIFAS DALAM PERSPEKTIF BUDAYA MELAYU DI KELURAHAN KAMPUNG MESJID KECAMATAN KUALUH HILIR
Kata Kunci:
Masa Nifas, Perilaku Pemeliharaan Kesehatan, Budaya Melayu, Ibu NifasAbstrak
Masa nifas merupakan masa pemulihan setelah persalinan yang berlangsung selama kurang lebih 42 hari dan memerlukan perawatan yang optimal untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dalam masyarakat Melayu, perilaku pemeliharaan kesehatan ibu nifas masih dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai praktik budaya seperti masa pantang, konsumsi jamu, penggunaan pilis, betangas, stagen atau gurita, pijat, serta pantangan makanan masih banyak dilakukan oleh ibu nifas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kesehatan ibu nifas dalam perspektif budaya Melayu di Kelurahan Kampung Mesjid Kecamatan Kualuh Hilir. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Melayu di Kelurahan Kampung Mesjid masih mempertahankan berbagai praktik budaya dalam pemeliharaan kesehatan ibu nifas, seperti menjalani masa pantang selama 40–44 hari, mengonsumsi jamu tradisional, menggunakan pilis, melakukan betangas, memakai stagen atau gurita, menjalani pijat tradisional, serta membatasi konsumsi beberapa jenis makanan dan aktivitas tertentu. Praktik-praktik tersebut diyakini dapat membantu proses pemulihan ibu nifas, namun beberapa di antaranya berpotensi memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan apabila dilakukan secara berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan peran tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi agar praktik budaya yang dijalankan tetap sejalan dengan prinsip kesehatan.
The postpartum period is a recovery phase after childbirth that lasts approximately 42 days and requires optimal care to prevent complications. In the Malay community, postpartum maternal health maintenance behaviors are still influenced by cultural values and traditions that have been passed down from generation to generation. Various cultural practices such as postpartum confinement, consumption of traditional herbal medicine, the use of pilis, betangas, abdominal binders (stagen or gurita), massage, and dietary restrictions are still commonly practiced by postpartum mothers. This study aimed to describe postpartum maternal health maintenance behaviors from the perspective of Malay culture in Kampung Mesjid Village, Kualuh Hilir District. This study employed a qualitative research method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The results showed that the Malay community in Kampung Mesjid Village still maintains various cultural practices in postpartum health maintenance, including a 40–44 day confinement period, consumption of traditional herbal medicine, the use of pilis, betangas, abdominal binders, traditional massage, and restrictions on certain foods and activities. These practices are believed to support the mother's recovery process; however, some of them may affect nutritional intake and maternal health if practiced excessively. Therefore, the role of health workers is needed to provide education so that these cultural practices remain in harmony with modern health principles.




